Ciri-ciri Orang Sehat

12 Februari 2012 pukul 7:49 | Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar
Tag: , , , , ,

Kata-kata Hidup Sehat memang mudah diucapkan tetapi agak sulit dilaksanakan. Semua orang mendambakan hidup yang teratur dan sehat, tetapi sangatlah sedikit dari mereka yang memahami apa arti hidup sehat itu sendiri. Lalu yang dikatakan hidup sehat itu sendiri bagaimana?

Menurut Undang-undang Pokok Kesehatan nomor 9 tahun 1960, dalam pasal 2 dikatakan bahwa yang dimaksud kesehatan adalah yang meliputi kesehatan badan, rohani (mental), dan sosial, dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Ini mengandung pengertian bahwa orang yang sehat itu tidaklah cukup dikatakan dia bebas dari penyakit fisik. Tapi lebih dari itu. Apalah artinya badan sehat kalau hanya menyusahkan orang lain.

Sehat Secara Jasmani

Soedjatmo Soemowardojo menyatakan bahwa sehat menurut ilmu faal, adalah normalnya fungsi alat-alat tubuh. Untuk bisa hidup sehat secara jasmaniah tentunya kita perlu usaha. Dan dalam berusaha tentu perlu ilmu, kesabaran, waktu, dan kadang biaya. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah makan secara teratur dan berolahraga. Kelihatan ringan dan gampang, tetapi dalam kenyataannya tidak semua orang paham apa yang dimaksud makan secara teratur. Apakah hanya keakuratan waktu dan menu yang aduhai? Tentu saja tidak. Makan secara teratur itu tidak lain yaitu makan menurut anjuran kesehatan. Ini artinya kita makan secukupnya dan tentu saja bergizi, misalnya sepiring nasi, semangkok sayur, lauk sepatutnya, dan kalau ada segelas susu segar. Istilah populernya empat sehat lima sempurna.
Sebetulnya kebutuhan kita akan kalori tidaklah begitu banyak, kecuali kalau kita sedang bekerja berat atau berolahraga misalnya bermain sepak bola. Justru kalau kita makan berlebihan malah berbahaya. Bisa-bisa sakit jantung, liver, ginjal, atau tekanan darah tinggi. Bahkan Nabi Muhammad pernah memberi nasehat kepada kita: makanlah kalian bila merasa lapar, dan ketika makan jangan terlalu kenyang. Itu artinya kita dilatih untuk bersabar. Bukankah sifat sabar adalah dicintai Allah. Di samping itu, kita juga dididik untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Karena semua yang berlebihan itu tidak baik buat kesehatan. Selain makan teratur, kita masih dianjurkan berolahraga secara rutin. Dengan berolahraga akan mengurangi pembentukan lemak yang berlebihan dalam tubuh kita.

Sehat Secara Rohani

Adapun kesehatan rohani (kesehatan mental) menurut paham kedokteran pada waktu sekarang, ialah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang-orang lain. Sehat yang satu ini memang agak sulit diamati secara fisik. Meski segar bugar, seseorang masih dikatakan tidak sehat jika suka berhalusinasi dan berbicara sendiri. Atau sering melamun karena galau dengan masa depannya, namun tidak melakukan usaha apa-apa. Secara psikologis, di dalam dirinya terjadi krisis mental. Jiwanya kering. Dia butuh siraman rohani untuk membangkitkan semangat hidupnya.

Sehat Secara Finansial

Kefakiran itu dekat dengan kekufuran. Seseorang yang mengalami krisis ekonomi dapat dengan mudah terjerumus pada hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama. Sering dijumpai di surat kabar, ada orang yang mencuri karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Fakir belum tentu berarti tidak punya uang. Karena ada pula orang yang ekonominya mapan, tetapi masih korupsi anggaran. Sehingga juga bisa dikatakan bahwa dia miskin. Tetapi bukan miskin harta, melainkan miskin jiwa. Jiwanya tidak pernah merasa puas dengan apa-apa yang sudah dimiliki. Uang satu juta rupiah bisa dikatakan banyak bagi seorang pengemis, tetapi masih terlalu sedikit bagi seorang konglomerat. Sehingga, sehat secara finansial hanya dimiliki oleh orang-orang yang merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang dia peroleh dari pekerjaannya.

Sehat Secara Sosial

Kesehatan sosial ialah perikehidupan di dalam masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap warga Negara mempunyai cukup kemampuan untuk memelihara dan memajukan kehidupan sendiri serta kehidupan keluarganya dalam masyarakat yang memungkinkan bekerja, beristirahat dan menikmati hiburan pada waktunya.
Apalah artinya badan sehat dan segala kebutuhan terpenuhi, tetapi tidak mempunyai teman untuk diajak bicara. Bukankah berbicara itu merupakan kebutuhan batin seseorang dalam mengungkapkan perasaan, baik suka maupun duka? Alangkah malangnya seseorang bila segalanya dikerjakan sendiri. Dalam hal-hal tertentu memang selayaknya sebuah pekerjaan dilakukan sendiri. Tetapi dalam hidup bermasyarakat kita tidak mungkin menghindar begitu saja. Sebab, pada hakekatnya kita di samping makhluk individu juga sekaligus makhluk sosial. Jadi, agar dianggap sehat secara sosial kita harus pandai-pandai beradaptasi dengan lingkungan di mana kita berada.

Setelah membaca uraian di atas, mungkin kita perlu kembali ke bagian awal tulisan ini, di bagian judul. Ya, Anda memang hidup. Tapi, apakah Anda sehat? Pastikan poin berikut benar.
1. Anda merasa bugar, makan teratur, dan sering berolah raga.
2. Anda beriman dan bertakwa sesuai ajaran agama Anda.
3. Anda memiliki cukup keuangan untuk hidup sehari-hari.
4. Anda terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar Anda.

Nah, adakah poin yang belum sesuai dengan kondisi Anda sekarang? Jika ada, maka bersegeralah untuk mengobatinya. Paling tidak segera berupaya untuk menutupi kekurangan yang ada.

1. Jika tubuh Anda kurang bugar, segeralah berolah raga. Olah raga memang membuat badan capek. Tetapi bukan itu tujuannya. Olah raga bertujuan membentuk daya tahan tubuh yang lebih tinggi. Letih dan lelah hanya akan terasa di awalnya saja. Tetapi dengan semakin sering berolah raga, tubuh akan semakin kuat dalam menghadapi kelelahan yang sama.

2. Jika rohani Anda kering, segeralah mendekat kepada Yang Mahakuasa. Perbanyak ibadah dan doa agar iman Anda semakin kuat, dan jiwa Anda pun semakin tahan dalam menghadapi segala bentuk cobaan hidup.

3. Jika keuangan Anda kurang memadai, maka tingkatkanlah semangat kerja Anda. Lakukanlah yang terbaik, bukannya justru menurun. Dengan bekerja sepenuh hati, maka apapun yang Anda lakukan akan bernilai tinggi di hadapan Anda Lalu terimalah hasilnya dengan sepenuh hati dan syukur. Ingat, jika kita bersyukur, maka nikmat itu akan ditambah.

4. Jika Anda masih merasa asing di tengah-tengah masyarakat Anda, segeralah berkenalan dengan mereka. Tidak ada kata terlambat untuk berkenalan, selama belum dijemput oleh kematian. Tidak perlu merasa takut dan ragu, karena kadang-kadang rasa takut itu datang dari diri sendiri.

Poin pertama hingga ketiga mungkin dapat Anda tangani dan lakukan sendiri. Tetapi bagaimana dengan poin keempat? Langkah-langkah apa yang akan Anda lakukan? Kami yakin bahwa Anda punya banyak teman. Baik teman sekolah, kuliah, kerja, bermain, dsb. Tetapi, apakah mereka semua tinggal di sekitar Anda? Mana yang lebih Anda kenal, tetangga sebelah rumah Anda atau teman sebangku di sekolah dari luar kota?

Orang yang normal akan merasa nyaman ketika bersama dengan orang-orang yang latar belakangnya sama. Misalnya memiliki hobi yang sama, kepandaian yang sama, tingkat ekonomi yang sama, atau idealisme yang sama. Tetapi, apakah di tempat tinggal kita masing-masing terdapat orang-orang yang seperti itu? Tentu tidak kan? Masyarakat kita begitu heterogen. Bermacam-macam hal yang berbeda, mulai dari pekerjaan, hobi, tingkat kepandaian, kekayaan, dan ribuan perbedaan lainnya. Kecuali kalau Anda tinggal di perumahan khusus orang-orang pintar, kaya, dsb. Anda tidak perlu merisaukan hal ini.

Maka dari itu, kita membutuhkan ‘olah raga’ sosial. Kita harus terjun langsung ke masyarakat agar bisa saling mengenal. Mengamati saja tidak cukup. Boleh jadi kita hapal dengan nama-nama orang di sekitar kita, tetapi kita tidak pernah mengenal bagaimana orangnya. Kita juga harus saling berdialog agar mengerti pikiran masing-masing. Tak lupa pula, kita harus bekerja sama agar mengerti kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Dalam sebuah kerja sama itu, kita akan tahu sejauh mana kemampuan kita dalam menghadapai berbagai persoalan yang kita temui dalam suatu kegiatan. Boleh jadi kita merasa pintar di bidang akademik, tapi suatu saat kita baru sadar betapa bodohnya kita saat berbicara tak karuan di depan umum. Atau mungkin kita merasa minder ketika bertemu dengan orang-orang terkenal, namun ternyata kita langsung akrab karena memiliki hobi yang sama.

Dalam sebuah kerja sama itu, kita juga akan tahu sekuat apa mental kita. Ketika bertemu dengan berbagai persoalan yang tak kunjung usai, apakah kita akan menyerah begitu saja atau berjuang habis-habisan. Dalam sebuah kerja sama itu, kita akan tahu sepandai apa kita dalam membagi waktu. Apakah kita dapat berinteraksi dan memberi manfaat bagi orang banyak, atau hanya menghabiskan waktu untuk bersantai-santai.

Dalam sebuah kerja sama itulah, kita menjalankan organisasi. Sebagai pemuda, terkadang kita masih dianggap sebelah mata oleh orang-orang dewasa (baca: pejabat). Baik pejabat tingkat RT, RW, Kelurahan, hingga Presiden. Dengan mengikuti organisasi, kita mempersiapkan diri kita untuk menggantikan mereka-mereka yang sudah tua itu – beberapa tahun lagi.

Selama satu, tiga, atau lima tahun, boleh jadi terlalu lama bagi kita untuk memikul beban kepengurusan suatu organisasi. Namun, bisa jadi terlalu singkat untuk membuat mental dan kedewasaan kita benar-benar matang. Ingat, kita adalah calon ayah atau ibu bagi anak kita nanti. Kita juga calon pasangan bagi suami atau istri kita nanti. Apakah kita bisa menjamin keberhasilan masa depan keluarga dan masyarakat sekitar kita, jika mengurus kesehatan diri sendiri saja tidak mampu? :)

Delapan kriteria jiwa (mental) yang sehat menurut WHO (World Health Organization):
1. Mampu belajar dari pengalaman
2. Mudah beradaptasi
3. Lebih senang memberi daripada menerima
4. Lebih senang menolong daripada ditolong
5. Mempunyai rasa kasih sayang
6. Memperoleh kesenangan dari hasil usahanya
7. Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pengalaman
8. Berpikir positif (positive thinking)

*dari berbagai sumber

5 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Ini sangat menusuk hati saya..
    Namun, inilah realita dan jika diperbolehkan saya jadikan referensi bagi saya untuk hidup maju dan ” sehat segalanya ”

    Terimakasih. *mba ato mas :D

  2. wahhh,, kelihatannya masih banyak orang sehat yg belum sehat mentalnya :D

  3. sip,,trmksh ya..bisa jadi bahan refrensiku tuk jadi pribadi yg menyenangkan..

  4. Good, trim yaaa atas pencerahannya

  5. sangat membantu sekali dalam kehidupan saya.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.674 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: