Pengemis Berbulu Domba (Part 1)

Siapa yang menyangka bahwa seorang pengemis jalanan bisa jadi punya motor yang lebih bagus dari motor si pengguna jalan? Memang sulit dipercaya, tapi hal ini bukan lelucon. Nyata dan sungguh-sungguh terjadi. Salah seorang yang pernah mengikuti si pengemis hingga ke rumahnya memberikan fakta yang mengejutkan – sekaligus menyakitkan.

Yang disebut sebagai pengemis di sini tidak hanya orang-orang pasif yang meminta-minta uang di perempatan jalan, di daerah perumahan, di kampus, dsb. Ataupun seperti orang cacat yang menengadahkan tangan di bawah lampu merah. Tetapi ada juga beberapa orang yang juga digolongkan sebagai pengemis. Karena apa yang dia lakukan punya prinsip yang sama, yaitu meminta-minta.

Ada bermacam-macam kedok yang dipakai oleh peminta-minta, di antaranya:

1. Sumbangan pembangunan masjid atau pesantren

Tipe ini paling banyak dijumpai di tengah masyarakat. Ada beberapa metode yang paling umum dipakai.

Metode pertama, menggunakan mobil yang dilengkapi sebuah pengeras suara. Sasarannya adalah rumah-rumah dan toko di pinggir jalan raya. Minimal ada tiga orang yang bekerja. Dua orang berada di mobil, yang satu bertugas sebagai sopir dan satu lagi berteriak-teriak mempromosikan imbalan akhirat. Sementara satu orang lagi turun ke jalan dan menghampiri setiap bangunan yang dilewati sambil membawa sebuah kardus. Tak peduli orang itu tau tempat pembangunan masjidnya atau tidak, yang penting kalo mau ngasih ya trimakasih, kalau nggak mau sih nggak maksa.

Metode kedua, berkunjung dari rumah ke rumah. Pelaku biasanya wanita berjilbab atau bapak-bapak yang sudah tua. Masing-masing orang membawa beberapa lembar kertas berisi daftar penyumbang dan jumlah sumbangan. Sasarannya tidak spesifik. Tidak hanya di daerah perkotaan yang padat penduduk, tetapi juga di daerah pedesaan yang rumah-rumahnya masih berjauhan (kayak di daerahku :D).

Kalau metode kedua ini dijalankan di daerah pedesaan, dari segi kuantitas penyumbang, tingkat keberhasilannya lebih tinggi daripada di kota. Hal ini disebabkan oleh karena adanya sifat kekeluargaan antar tetangga. Lho, kok bisa? Karena, dengan adanya kedekatan itulah, warga merasa gengsi jika tetangganya menyumbang, sementara dia sendiri tidak. Hehehe.

Nah, kalau di kota, tingkat kesuksesannya lebih besar dari segi kualitas. Sukses di sini maksudnya adalah mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih banyak. Karena rata-rata orang kota punya penghasilan lebih tinggi daripada orang desa. Tetapi hal ini tergantung situasi dan kondisi. Bisa saja kan, orang desa tidak lebih kaya tetapi lebih dermawan?🙂

Metode ketiga, membagikan amplop di bis antarkota. Biasanya yang melakukan hal ini adalah bapak-bapak, karena perlu tenaga untuk teriak-teriak menceramahi penumpang. Biar kelihatan meyakinkan, pakai baju koko atau jubah plus kopiah. Dan yang pasti gak pake sarung, karena akan susah berjalan di antara kursi-kursi penumpang. Pada amplop biasanya tertulis nama masjid atau pesantren. Juga tertulis alamatnya, entah fiktif atau nyata. Kalau yang nggak modal, pada amplop gak ada tulisannya sama sekali. Jadi kalau ingin tau dari mana, harus dengerin ceramah singkat dari bapak itu. Kalo yang udah sering naik bis sih, biasanya cuek aja.

Setelah ceramah sekitar 2-3 menit, kalo ada kursi kosong, bapak itu duduk dulu. Kan capek, ceramah sambil berdiri, udah cuaca panas, gak ada pengeras suara lagi. Tapi biasanya sih gak ada kursi kosong, jadinya cuma berdiri sambil pegangan sandaran kursi. Habis itu, bapak-bapak ini keliling lagi, mengambil amplop yang tadinya dibagikan. Entah uang seribu atau lima ribu, pasti ada penumpang yang memberi. Nah, setelah semua amplop kembali, bapak ini kembali ke tempat semula. Kalo bis udah sampe di pemberhentian, bapak ini pun turun. Menunggu bis selanjutnya.

Metode keempat, membagikan amplop di pom bensin. Caranya hampir sama dengan yang di bis. Bedanya, si pembagi amplop gak cuma laki-laki, tapi juga perempuan. Begitu pembeli bensin turun dari motor, akan disambut dengan wajah memelas dari si pemberi amplop. Sangat bertolak belakang dengan resepsionis bank atau SPG yang selalu pasang muka ramah.

Begitu amplop diterima, mau tak mau harus dilakukan tindakan cepat. Dalam waktu antrian yang sesingkat itu, harus segera diputuskan untuk memberi atau tidak. Entah mau baca tulisan yang terpampang di amplop atau cuek saja, karena amplop diberikan begitu saja tanpa ceramah singkat atau basa-basi. Aku pernah mendapat amplop semacam ini. Waktu itu belum ngerti maksudnya. Kukira isinya semacam proposal permintaan sumbangan gitu. Begitu selesai kubaca kop amplopnya, bukannya kumasukkan uang lalu kukembalikan, tetapi malah kumasukkan ke dalam saku dan kubawa pulang. Pas nyampe di rumah baru sadar. Pantas saja mas-mas yang ngasih tadi liat aku dengan tampang aneh. Salah sendiri gak mau ngomong.

One thought on “Pengemis Berbulu Domba (Part 1)

  1. wahaha.. aku juga pernah, lagi buru2 eh dikasih amplop. Aku genggam aja sambil bawa barang lain, niatnya mau tak kasih lagi pas mbaknya minta. Eh taunya kelupaan sampe kebawa pulang..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s