Travelling #130304: Berburu Sertifikat TOEFL ‘Kilat’

Mungkin cerita ini biasa-biasa aja, tapi sayang kalau terlupakan. Petualangan ini berawal dari sebuah usaha untuk melengkapi syarat-syarat pendaftaran pada sebuah lowongan kerja. Alkisah hari itu adalah H-7 deadline pendaftaran, dan posisi saya di Bojonegoro (tugas kerja lapangan). Berbagai berkas lamaran sudah diupload waktu di Jogja, kecuali sertifikat TOEFL (dengan skor minimum 450). Sayangnya, saat itu saya tidak punya sertifikat yang dimaksud. Memang sih beberapa hari sebelumnya sudah berencana ikut tes, tapi batal karena jadwal yang tiba-tiba padat sebelum pergi keluar kota. Alih-alih ikut tes, ndaftar saja tidak sempat. Sempat terlintas di pikiran untuk mengedit sertifikat punya teman. Haha. Tapi tentu saja itu tidak masuk pilihan. Sesuatu yang dimulai dengan kebohongan niscaya tidak akan barokah. Akhirnya, malam itu aku berburu informasi di mana gerangan bisa mendapatkan nilai TOEFL sebelum garis mati (deadline).

H-7 (Kamis)

As usual, sasaran pertama adalah mbah Google. Salah satu kata kunci yang dipakai adalah “tes toefl bojonegoro”. Tidak ada tanda-tanda ada tes toefl di kota ini. Setelah kata kunci diganti berkali-kali, akhirnya… tidak ketemu juga 😦 Sasaran pun digeser ke kota tetangga, Cepu. Ternyata di sana juga tidak ada. Setelah itu pindah ke kota lain lagi, Kediri. Alhasil saya menemukan sebuah website milik sebuah lembaga pelatihan TOEFL yang berlokasi di Pare, Kediri. Setelah menghubungi CP yang ada, ternyata di sana hanya toefl preparation. Katanya, lokasi tes TOEFL terdekat ada di Kota Apel, Malang. Setelah mencari-cari lagi, ketemulah website milik LBPP LIA Malang. Rupanya tes toefl hanya ada sebulan sekali, setiap hari jum’at kedua. Hasilnya pun keluar setelah sepekan. Pupus sudah harapan bisa tes di sekitar TKP. Baca lebih lanjut

Iklan