Sabtu Tersibuk

Sabtu pagi seharusnya jadi hari paling pribadi dalam agendaku. Mau nyuci baju yang udah direndam seharian, ganti oli motor yang udah 3 bulan lebih belum ganti, bersihin karburator, ganti lampu depan motor kakakku yang mati, dsb. Tapi Sabtu kemarin jadi Sabtu yang sangat sibuk. Jum’at malam (pukul 22.32 – aku dah tepar, capek habis dari Gelanggang Expo ’08, daftar UKM pingpong) dapet sms undangan untuk dateng acara Sabtu siang di kampus. Langsung aku bales kalo aku gak bisa. Soalnya paginya ada agenda wajib geofis 07: survei; dan biasanya pulang sore. Padahal kalo gak ada acara lain pengen ikut ke kampus sih.

Baca lebih lanjut

Iklan

Diary Pascal 2008: Hari ke-4 (bag 2-habis)

Lalu, dibacakanlah usulan final setiap kelompok oleh masing-masing perwakilan. Setiap kelompok memiliki 1-2 usulan pokok. Kelompok A mengusulkan untuk membuatkan rumah singgah, dan mengajarkan pendidikan informal bagi anak-anak jalanan itu. Pokoknya anak-anak jalanan dibuat betah di rumah, sekaligus diberi pendidikan berupa baca-tulis maupun ketrampilan-ketrampilan lain oleh sukarelawan dari mahasiswa baru.

Sedangkan usulan dari kelompok B adalah memberikan mereka sumbangan berupa uang. Uang itu dikumpulkan oleh setiap mahasiswa baru fmipa ugm 2008, sebanyak 100 rupiah setiap harinya. Andaikan jumlah maba itu 800 orang, maka tiap harinya akan terkumpul uang sebanyak 80.000 rupiah. Dan dalam sebulan terkumpul Rp 2.400.000,00. Uang segitu cukuplah untuk membiayai sekolah para anak jalanan.

Baca lebih lanjut

Diary Pascal 2008: Hari ke-4 (bag 1)

Hari ini dimulai seperti biasa. Panitia kumpul jam 05.15. Peserta udah pada dateng. Mulai upacara jam 06.00. Peserta ada yang telat. Gak pernah berubah. Selesai upacara, dimulailah acara yang telah diberitahukan kepada para peserta maupun panitia, yaitu sharing dan berbagi bersama anak jalanan. Mereka didatangkan dari daerah sekitar, yaitu anak-anak yang biasa lalu-lalang di perempatan sekitar UGM. Jumlahnya sekitar (aduh lupa, gak ngitung) 10-an.

Mereka diajak ngobrol dan ditanya-tanyai oleh para maba, tentang kehidupan mereka di jalanan. Ketika ditanya asalnya, ada yang dari kalimantan, jakarta, klaten, dll. Wuih,,jauh-jauh ternyata. Trus, ketika ditanya apa alasan mereka jadi anak jalanan, ada yang kabur dari rumah. Ada yang orang tuanya cerai. Ada pula yang datang ke sini bareng neneknya. Lho? Neneknya di mana? “Di rumah,” katanya. Lho?

“Kenapa kamu gak tinggal bareng nenek aja?”
“Lebih enak hidup di jalan.”
“….”

Baca lebih lanjut

Diary Pascal 2008: Hari ke-3

Pascal hari ketiga berjalan seperti biasa. Panitia briefing pagi pukul 05.15, dan maba juga udah pada dateng. Tetapi ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Para inspektur putra memakai baju koko, untuk mempromosikan KOKO DAYS tiap hari Jum’at di mipa bagi yang muslim. Selain itu, paginya tidak ada ABRI, tidak ada bentak-bentakan, dan tidak ada hukuman fisik. Jadwal upacara masih seperti biasa, mulai pukul 06.00. Sayang sekali, masih ada beberapa orang yang terlambat. Karena tidak ada ABRI yang menahan peserta yang terlambat, maka proses pemberian sanksi menjadi berubah. Peserta yang terlambat datang, langsung ikut bergabung ke barisan upacara.

Tetapi sebelum sampai di lapangan, nama dan kompinya dicatat oleh beberapa inspektur. Wajahnya juga diabadikan oleh beberapa orang tim dari dokumentasi alias PDD. Wah, kok mukanya kusut-kusut ya? Mungkin belum disetrika kali ya.. Tanpa ABRI, beban mental tidak hilang begitu saja. Dari yang sebelumnya takut karena dibentak-bentak, mungkin sekarang juga takut kalau ada apa-apa dengan daftar peserta yang terlambat itu.

Baca lebih lanjut

Diary Pascal 2008: Hari ke-2

Yeah, setelah beberapa hari tertunda, akhirnya sekarang diposting juga. Oke, diary berlanjut…

Seperti hari pertama, aku dateng ke kampus fmipa ugm ini jam 5.10. Dan seperti biasa, para maba udah datang pagi buta. Bahkan lebih rame dari kemarin. Karena kemarin pada dimarahi gara-gara telat, atau nyeleseiin tugas yang belum kelar ya? Yang jelas, mau dateng jam brapa aja boleh, asal gak telat. Hehe.

Jam 6 upacara. Seperti biasa. Ah, selalu saja ada yang terlambat. Telat emang susah dihindari. Apapun alesannya. Ada yang bangun kesiangan, berangkat kesiangan, jalan macet, atau apalah. Siapa juga yang pengen telat. Sama sekali gak punya prospek cerah. Selalu dibentak-bentak dan dimarahi. Berbaris rapi di depan teman-temannya yang sedang upacara. Setelah itu diinterogasi, lalu dihukum bareng-bareng. Push-up ato apalah. Yang jelas, udah capek sebelum acara dimulai. Buat pelajaran biar besok berusaha buat gak telat lagi.

Pengecekan tugas berjalan lumayan lancar, gak seperti hari kemarin yang agak kacau. Kemarin disuruh bawa jeruk, anggur dan stroberi seharga Rp 1.000,00. Ada yang bawa buah beneran, ada juga yang bawa permen. Tentu saja permen rasa buah-buah yang disebutkan itu. Adek-adeknya (banyak yang lebih tua dari angkatan 2007, tapi tetep disebut adek. Hehe) alias maba-miba kemarin, ketika disampaikan tugas-tugasnya pada bingung. Masa buah jeruk seribu, anggur seribu, stroberi seribu… Tapi mau beli apa tetep kuserahkan pada mereka. Kalo menurutku sih buah asli. Tapi kalo mau beli permen ya terserah. Oke-oke aja. Toh mereka sendiri yang makan. Tapi akhirnya adek-adekku bawa buah beneran. Anggurnya enak. Jadi pengen makan lagi 😀
Baca lebih lanjut

fiuuhhh…

begitu masuk kuliah kok jadi susah banget mau posting..
bentar2 rapat..
bentar2 pulang malem..
kalo udah ngantuk, mau ngetik jadi gak konsen, tulisan gak jadi2, akhirnya mau posting juga gak jadi2.
padahal banyak tulisan udah ngantri pengen dibaca orang lain..
pengen kusampaikan pada orang lain..
berbagi ilmu & manfaat..
ada tips?

Diary Pascal 2008: Hari ke-1

Tanggal 19 malam merupakan malam pertama paling sibuk bagi para tentara NKRI. Bahkan aku melihat salah seorang prajurit dari negara tetangga yang juga sedang bersiap mengikuti perjuangan di negaranya. Malam itu pukul 23.30, aku menyusuri parit Mataram untuk menuju ke tempat persinggahan. Wah bahasanya terlalu susah. Pakai yang biasa aja ya. Hehe.

Tampak di depanku seorang pengendara sepeda motor bernomor polisi AD 6*** SP (hayo siapa?? Pasti anak kost). Sedang melaju ke arah timur, melewati bundaran pascasarjana. Masih dengan atribut lengkap: pakai sepatu, kaos kaki, celana hitam, dan jas almamater. Di lehernya dikalungkan sebuah karton yang berlubang di bagian tengahnya. Sampai di perempatan polres bulaksumur, dia berbelok ke arah selatan. Wow, sampai jam segitu masih mencari buruan. Hebat sekali..

Baca lebih lanjut